Cara Mudah Melatih Otak Kanan
Posted on Sabtu, 16 Juni 2012
|
No Comments
Perbedaan teori fungsi otak kanan dan otak kiri telah populer sejak tahun 1960.
Seorang peneliti bernama Roger Sperrymenemukan
bahwa otak manusia terdiri dari 2 hemisfer (bagian), yaitu otak kanan dan otak
kiri yang mempunyai fungsi yang berbeda. Atas jasanya ini beliau mendapat
hadiah Nobel pada tahun 1981. Selain itu dia juga menemukan bahwa pada saat
otak kanan sedang bekerja maka otak kiri cenderung lebih tenang, demikian pula
sebaliknya.Otak kanan berfungsi dalam hal persamaan, khayalan, kreativitas, bentuk
atau ruang, emosi, musik dan warna. Daya ingat otak kanan bersifat panjang (long term memory). Bila terjadi
kerusakan otak kanan misalnya pada penyakit stroke atau tumor otak, maka fungsi
otak yang terganggu adalah kemampuan visual dan emosi misalnya.Otak kiri
berfungsi dalam hal perbedaan, angka, urutan, tulisan, bahasa, hitungan dan
logika. Daya ingat otak kiri bersifat jangka pendek (short term memory). Bila terjadi kerusakan pada otak kiri maka
akan terjadi gangguan dalam hal fungsi berbicara, berbahasa dan matematika.
Walaupun keduanya mempunyai fungsi yang berbeda,
tetapi setiap individu mempunyai kecenderungan untuk mengunakan salah satu
belahan yang dominan dalam menyelesaikan masalah hidup dan pekerjaan. Setiap
belahan otak saling mendominasi dalam aktivitas namun keduanya terlibat dalam
hampir semua proses pemikiran.
Fakta medis berbicara bahwa tangan kanan dikendalikan
oleh otak kiri, dan tangan kiri dikendalikan oleh otak kanan. Otak kiri
berperan dalam kegiatan analitis, dan otak kanan berperan dalam sisi kreatif
dan imaginasi. Semakin besar ketidakseimbangan kita dalam menggunakan tangan,
yang kita terlalu sedikit menggunakan tangan kiri, maka otak kanan yang
mengatur sisi kreatif dan imajinasi kita, sangat lemah dan tumpul. Mungkin kita
pandai, mungkin kita sarjana, atau bahkan master. Namun sudah bisa ditebak
bahwa tidak akan banyak karya kreatif yang bisa ia lahirkan. Kepandaian,
sehebat apapun itu, tanpa sisi kreatifitas, hanya akan menjadi mesin yang akan
dikendalikan oleh pihak lain.
Yang tersembunyi dari cara
kerja otak. Otak
merupakan central command pada setiap makhluk hidup, dimana setiap gerakan yang
dilakukan oleh tubuh adalah hasil komando dari otak. Apa jadinya jika otak
kehilangan atau setidaknya berkurang fungsinya sebagai central command? Tentu
saja gerakan yang dibuat tidak akan terkontrol atau mungkin bahkan anggota
tubuh lainnya tidak lagi dapat melakukan gerakan alias lumpuh… takuuut!
Otak Tidak Terlatih Pada banyak penelitian mengenai
kemunduran fisik otak, sebuah universitas di Amerika meneliti dua orang pria
dengan umur dan kondisi yang sama. Profesi dari masing-masing pria tersebut
adalah dosen dan arsitek. Kedua profesi tersebut diyakini banyak menggunakan
otak dan kurang lebih porsi penggunaan otaknya sama.
Pria pertama adalah seorang dosen yang berumur 50
tahun. Di usia dimana sudah harus pensiun dari pekerjaan yang sekian puluh
tahun telah digelutinya. Sebagaimana kita tahu bahwa dosen merupakan tenaga
pendidik dimana otak adalah kebutuhan nomor satu yang dapat diandalkan sebagai
seorang pengajar, ketrampilannya mengajar dan ketahanannya untuk berdiri ke
depan kelas adalah kebutuhan nomor sekian.
Lalu kemudian, hari-hari pada masa pensiunnya, ia isi
dengan kesibukan berkebun dan menonton televisi. Setelah kira-kira 5 tahun
kedepan apa yang terjadi? Pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh peneliti
kepada pria pertama tersebut tidak dapat ia jawab sebaik saat ia mengajar di
depan kelas. Padahal pertanyaan tersebut adalah materi yang biasa ia berikan
kepada siswanya. Begitu pula pertanyaan seputar dunia yang masih hangat
ditayangkan televisi. Ia hanya mampu menjawab dengan jawaban ringan dan lebih
mengemukakan opininya sendiri berdasarkan pengalaman yang pernah didapatnya.
Dalam penelitian itu, ditemukan bahwa pria pertama
tersebut mengalami kehilangan memori sebesar 20% dan kecepatannya memecahkan
masalah juga berkurang 18%.
Otak Terlatih Pada pria kedua yakni seorang mantan
arsitek dimana ia juga memutuskan untuk pensiun di usia 50 tahun. Selama masa
kerjanya ia terbiasa menghitung berat jalan atau bangunan yang dibuatnya hingga
hitungan per milimeter, enghitung kekuatan angin pada gedung-gedung bertingkat,
memikirkan fungsi ruangan yang saling terkait, hingga perhitungan budget per
sen-an.
Kemudian pada masa pensiunnya, pria kedua dalam
penelitian ini memilih menjadi seorang konsultan arsitek, dan hari-harinya
tidak pernah putus dari sebua komputer. Sebagai seorang pensiunan dan hanya
menjadi seorang konsultan tentu banyak waktu luang. Tapi waktu luang tersebut
ia gunaka untuk mencoba dan mempelajari software-software baru. Ia juga
menonton televisi pada sebagian waktu luangnya. Mangikuti acara permainan kuis
yang banyak sekali diputar di stasiun tv, mulai dari kuis tebakan kata atau
gambar hingga pada kuis ilmu pengetahuan umum dan teknologi.
Apa yang terjadi setelah 5 tahun? Bukan…, bukan hanya
5 tahun, bahkan hingga 7 tahun kemudian, ia tetap menjadi seorang arsitek
dengan ide-ide terbarunya yang segar yang kerap menjadi tren pada disain
arsitekturnya. Hingga pada penggunaan software terbaru dapat secara baik
dikuasainya.
Kedua contoh di atas sangat jelas sekali perbedaannya.
Di mana otak yang sudak tidak pernah dilatih dengan cepat akan mengalami
kemunduran pada fungsinya. Sedangkan pada otak yang teratur besarnya fungsi
otak dapat dipertahankan.
Pada penelitian tersebut, kedua pria tersebut di atas
dinyatakan sehat. Karena banyak pria dengan umur di atas 40 tahun memiliki
penyakit seperti stroke, diabetes, hipertensi dan penyakit lainnya yang
bilamana memasuki usia 50-an biasanya akan mengganggu syaraf. Hal ini tentu
saja akan menjadi hambatan pada otak, meskipun otak tersebut secara teratur
dilatih. Walau penyakit-penyakit tersebut menghambat atau bahkan sangat
mempengaruhi ketahanan dari fungsi otak, latihan fungsi otak tetap berguna
untuk memperlambat laju penurunan fungsi otak.
Otak Kiri dan Otak Kanan Manusia normalnya selalu menggunakan
tangan kanan dalam melakukan hampir seluruh kegiatan, seperti makan, menulis
dan lain-lain. Bila tangan kanan tersebut digunakan untuk melakukan suatu
gerakan, sesungguhnya gerakan tersebut dikendalikan oleh otak kiri. Penggunaan
otak kiri lebih berfungsi untuk pemikiran-pemikiran yang bersifat logis dan
untuk kecepatan serta ketepatan dalam perhitungan numerik.
Normalnya juga, orang dewasa orang dewasa jarang
menggunakan tangan kirinya, atau tangan kirinya jarang terlatih. Sering kita
dapati bahwa daya khayal anak-anak di bawah umur 10 tahun sangat tinggi. Salah
satu pemicu dari tingginya daya khayal mereka adalah frekuensi penggunaan
tangan kirinya hanya selisih 30% dari penggunaan tangan kanan. Dan seiring
pertumbuhannya selisih frekuensi antara penggunaan tangan kiri dan kanan
semakin besar.
Pada masa sebelum sekolah, yaitu di bawah umur 6
tahun khususnya, anak-anak diajarkan melempar atau menangkap bola dengan
menggunakan kedua tangannya, membawa gelas atau mangkuk dengan kedua tangan.
Mereka biasa mengambil sesuatu dengan menggunakan tangan atau mengangkat tangan
kirinya. Dan kita terlalu banyak diajarkan untuk menggunakan tangan kanan dan
kebiasaan itu terus berlanjut saat dewasa.
Sumber: http://cafebisnis.com/2009-01/kreatifitas-tanpa-batas

